;

Kamis, 19 Februari 2009

Showing posts with label Puisi. Show all posts

Puisi Puisi S. Hamsah





Sajak (tentang) Cinta

Tak tahu harus kusapa dengan tembang siapa engkau,
Bila ujung panahku tak tajam lagi.
Aku bukanlah arjuna pada padepokan durna,
namun ingin membidik kejujuran seadanya.
Raga yang terkoyak disayat kemiskinan
mestinya kau yang menjahitnya dengan lembut jemarimu
kemudian kan kupinjam tongkat musa tuk mengetuk
Sekat nurani, lalu kusingkap tirai kehidupan.

Sementara tempo di luar kamar memendam kembang
Semboja luruh, namun aku tetap berharap
cairnya bingkai kaca di museumku yang berisi
sepenggal senyum gagap yang pernah kau lemparkan,
dinding kamar makin menyempit dan hanya cukup
‘tuk pergumulan antara kau dan aku berebut sebuah mantra;
“realitas”

Jogja, 08-08



Surat Buat Emak (tentang kerinduan)

mak,
tak tahu harus kutulis apa
pada suratku kali ini

mak,
telah habis kata kata
karena kupakai debat siang tadi
tentang hak azasi dengan tuan Bush
dalam mimpi

mak,
aku lelah
namun ingin bicara banyak
dengan bahasa gagu padaMu

mak,
aku kangen

Jogja, 08 – 80


Pada Suatu Pagi

lewati waktu sia sia dengan mimpi
dan terbangun kala dingin jilati telapak kaki
Ooo.. ala mak, jam tujuh seperempat sudah

serapahku meluncur waktu tersadar
bahwa sepenggal makna alam telah basi
dan aku cuma mampu ngungun
sejak purnama malam tadi

pagi ini cuma imaji yang datang
tentang para bikhu berjalan pulang
di sela gema parrita samar melayang
usai meditasi sibak alam wang – wang

namun
marahku tetap tak jadi garang

Jogja, 08 – 08



Cinta Pada Sahabat (buat erwe)

’seorang muram mengaduk selangit beban
sambil menepikan mayatnya’

itu perasaanmu, perasaanku, perasaan mereka,
perasaan siapa saja yang kalah dan disingkirkan

’bareng ombak terakhir
yang kandas di pantai terasing’

ya..., pantai terasing masing masing berbeda
kau pilih pantai di gemuruhnya kosmopolitan,
kupilih pantai sebuah desa yang telah usang
’kekalahan adalah jeda jeda
dari kalimat panjang kemiskinannya’

bagiku, kemiskinan memang diciptakan
karena kesempatan tak pernah diberikan terbuka
bagi semua yang telah dikalahkan sang penguasa

’kesalahan adalah akhir
dari sebuah lelucon tentang ijasah’

kesalahan kita cuma satu
yaitu belum jadi pemenang
sementara ijasah hanya hiasan manis dalam lemari
bukan mantra ajaib yang bisa menyulap realita
tanpa kita tetap terus berjuang.

Jogja, 08 – 08


Pada Suatu Hujan

hanya beberapa anak tangga yang mampu terdaki
saat beberapa makna sanggup kutelan
karena kebohongan dan darah telah berbaur
meresapi segala macam bentuk perjuangan

segores luka tak pernah mampu terhapus
oleh sejuknya embum pagi hari
kecuali kita berlari mengejar ajal yang bercumbu
di ujung langit

maka perjuangan tak lain
manakala rintik hujan menghujam deras
aku masih berjalan
menelusuri trotoar kota yang becek
demi sebutir makna penyumbat lapar

keras dan kejamnya alam bukan lagi terali penjara
sebab gelandangan yang mendekam di emperan
tak pernah lepas dingin dan lapar

dan aku cuma mampu memendangnya
trenyuh
persendianku lumpuh...

jogja, 08 – 08


Biru

pada kebisuan gunung tersimpan panas lahar
dalam kebiruan laut mendekam sejuta gelompbang
di semilirnya angin serombongan topan siaga menghantam
hancurkan siapapun tanpa dosa

mereka yang digusur adalah barisan gunung
para tertindas tak lain lautan biru nan luas
dan rakyat kecil hanya dianggap sepoi angin

Ingatlah para penguasa tiran!

atur dengkur dalam tafakurmu
hitung nafas dalam panjatan dosa
agar terbuka lebar jalan
saat kau terjungkal

Jogja, 08 – 08


Lalu

ketika para pejuang kian terlelap
dan pemuda sibuk mengkais kais jati diri
mereka yang terpangkas menggeliat
sendirian

lalu
arus yang tak menentu
membenturkan bahu mereka
ke tiang gantungan
atau dingin tembok penjara

para malaikat saling tuding jari
saat pejabat main akrobat
mengatur nasib masyarakat
dibalik ayat ayat baru
yang menggusur zabur, taurat, al kitab,
al quran, wedha, tri pitaka
cuma semakin manis di dalam buffet
sebagai hiasan

Jogja, 0 – 08

Read More...

Kumpulan Sajak KLARA AKUSTIA - Rangsang Detik

A.S. Dharta (lahir di Cibeber, Cianjur, 7 Maret 1924, meninggal di Cibeber, Cianjur, 7 Februari 2007) adalah sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya Adi Sidharta, tetapi biasa disingkat A.S. Dharta. Yang sering dipakai adalah Klara Akustia. Lainnya: Kelana Asmara, Jogaswara, Rodji, Barmara Poetra, dan masih banyak lagi.
Perjuangan
Jiwanya bergejolak sejak menjadi anak angkat Okayaman, salah seorang tokoh pergerakan yang dibuang ke Boven Digul. Dan makin dimatangkan di sekolah Nationaal Handele Lallegiun (NHL) di bawah didikan Douwes Dekker. Di masa revolusi, dia bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31, keluar-masuk hutan, bergerak dari satu medan pertempuran ke medan pertempuran lain. Di Menteng 31 inilah dia mulai mengenal Soekarno, sejumlah tokoh politik, dan juga seniman-seniman.
Dia pernah menjadi wartawan Harian Boeroeh di Yogyakarta. Dia memimpin serikat buruh: Serikat Buruh Kendaraan Bermotor, Serikat Buruh Batik, Serikat Buruh Pelabuhan, termasuk di lembaga induknya, Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Lalu dimatangkan lewat International Union of Students (IUS), World Federation of Democratic Youth, dan World Federation of Trade Unions, yang membuatnya berkeliling ke sejumlah negara bekas-bekas kolonialisme.
Bersama M.S. Azhar dan Njoto, A.S. Dharta mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustus 1950 dan menjadi sekretaris jenderal (Sekjen) pertamanya. A.S. Dharta masuk penjara di Kebonwaru, Bandung tahun 1965-1978.
Puisi, esai, kritik sastra, dan catatan perjalanannya tercecer di sejumlah media dalam dan luar negeri, serta masuk dalam antologi bersama.
Dia juga berkolaborasi dengan Amir Pasaribu, yang tahun 2006 menerima penghargaan Akademi Jakarta untuk bidang musik, menghasilkan antara lain lagu "Irama Mei".
Karya:
  • Saidjah dan Adinda (naskah drama, adaptasi novel karya Multatuli yang diterjemahkah Bakri Siregar)
  • Rangsang Detik (kumpulan sajak, 1957)

Hati dan Otak Kita

hati dan otak kita
ada dimana-mana
di lima benua di lima samudera
hati dan otak kita
menjalar di tubuh hidup
menembus batu dan beton
mendobrak besi dan baja
menyikat segala baksil terror massa

hati dan otak kita
makin bangkit badai mengancam
makin kuat makin dahsyat
alamat kiamat bagi nafsu
yang mempertahankan neraka atas dunia.

hai, kawan-kawan yang masih tidur
tinggalkan mimpi 40 bidadari

lepaskan hidup setengah mampus
dan mari hidup, mari hidup
di lima benua di lima samudera

hati dan otak kita
meluaskan kasih dan cinta
merata bagi semua.


Jalan Terus

kata Suurhoff*:
bung, jangan main-main politik
siapa berpolitik dia komunis
siapa komunis dia pengacau
bandit, perampok bajingan tengik.

kata POB:
bung, jangan masuk SOBSI
mari kita elus-elus sama majikan
senyum-senyum damai-damai
mogok itu jahat
siapa mogok dia komunis.

kata Amat buruh harian:
gua gak ngerti minis-minisan
gua gak doyan damai-kaburan
gua gak demen terror harga
imperialis jahat habis perkara!

aku Amat, dulu sampi perahan
sekarang merdeka, kata bung Karno
gua minta merdeka dari penjajahan
sepiring nasi.
_____________
* salah seorang pemimpin buruh negeri Belanda yang anti buruh berpolitik.


Nyanyian Buruh Angkutan

Kepada fusi buruh transport
aku Amat buruh angkutan
aku mogok dijalan-jalan kota jakarta.
bersama Chang dari Shanghai
Pierre-Paris dan Joe-London
kita bikin mampus lalulintas
kita raja mobil, kereta api, kapal dan udara
kita bikin botak direktur-direktur.

kita jutaan Amat di seluruh dunia
sudah tahu arti bersatu
kagak doyan lagi terror harga
mogok!, keramaian kota
kita jadikan sunyi kuburan.

aku Amat buruh jakarta
dulu buta huruf buta segala
kini pahlawan, jadi pahlawan
bikinan penindasan imperialis
Aku Triompator Hari Esok!


Teruskan…

In memoriam kawan-kawan Ngalihan
jeruji besi itu cair ditembus
pancaran kilat matamu
teruskan, Generasi Baru, teruskan…

dan kamipun tidak ragu berani menatap
sorotan matamu. Dalam jiwa gemuruh api
darah muda ini bernyanyi lagu
maju terus, maju terus
bekerja, berjuang, hidup mati untuk rakyat.

penjara dan makammu entah dimana, kawan
tidak membikin kami lemah
terkulai layu. Kami tahu engkau mati
di jalan juang tujuan kita bersama:
membebaskan manusia dari laparsengsara.

tersenyumlah kawan, senyum pahlawan
rela ikhlas menyerahkan segala
dan itu penjara siksa derita
hanya karangan melati engkau
taburkan dihati kami Generasi Baru.

dengarlah dengar… gegap gempita
kebangkitan massa menggempur penjara siksa
maju terus! kedunia rakyat kuasa.



Kepada Mao Tje-tung

Menyambut 1 Mei ‘51
matahari yang bersinar pagi ini
akan terkejut gembira melihat
gempita pesta kelas buruh dan perdamaian.

dan engkau yang pernah berjalan ribuan mil
lintasi gunung hutan dan sungai
dalam serangan peluru, lesu dan lapar
pagi ini engkau tak akan terkejut
engkau tahu: matahari reaksi segera tenggelam.

pagi ini engkau saksikan rakyat ketawa
dan pemuda-pemuda menyanyi menari yangko
dan akan kau dengar pula kumandang
suara kami bersatu lagu dengan bangsamu…
engkau tahu: matahari demokrasi makin gemilang.

engkau dan kami sama-sama punya jalan panjang
hianat, maut, siksa dan lapar…
dan kami juga tahu sebentar lagi
tiada batas dalam kebebasan rakyat
kita tahu: matahari kemenangan membunga atas dunia.

matahari yang bersinar di pagi Mei ini
bagimu dan bagi kami membawa nyanyian merdu:
“Serikat Internasionale Pasti di Dunia”


Barisan dan Bendera

kawan-kawan
ini barisan kita sudah banyak bolong-bolong
dan ini bendera sudah penuh koyak-koyak
ini barisan, barisan juang
dan bendera merah warna darah
bolong dan koyak adalah bintang.

kawan-kawan
detik ini kita kenangkan
prajurit yang telah gugur di pangkuan bumi
Digul, Madiun, Ngalihan, dimana-mana

Korea, Vietnam, Marokko, dimana-mana
prajurit barisan pembawa bendera kita

kawan-kawan
pada kita sudah tidak ada ampun lagi
terhadap mereka yang bikin kita bolong dan koyak
dan yang menjadikan neraka atas dunia…
barisan ini barisan kaum lapar
dan benderanya bendera merah darah rakyat.

kawan-kawan
barisan dan bendera ini
sekarang kita bawa ke perang penghabisan
dimana kita: tegakkan perdamaian kekal-adil
dimana kita nyanyikan gembira lepas bebas
bahagia sosialisme, bahagia dunia rakyat!


Senen-Kramat

malam di Senen-Kramat
dua dunia menusuk otak dan rasa.

tuan Parvenu hah-hah-ha mabuk bir
Amat becak hah-hah-ha menari doger
Bir dan doger
sama saja, bikin lupa sementara
dua dunia menusuk otak dan rasa.

Bir, jongos, bir, ayo minum
mari, nyai, mari, ayo mabuk
lari dari cekikan dua dunia.

tapi adik, bersama malam yang berpacu
di Senen Kramat, makin letih
Bir dan doger, makin melintang
garis tegas antara Parvenu dan Amat.

dan adik,
malam ini kudengar dengking memaki
Amat yang habis uang tidak menari:
aku bosan lupa, bosan menyerah
persetan takdir dan nasib!

malam berpacu terus
maki mengguntur menyesak udara
dua dunia berkutetan berkelahi
Senen-Kramat disenyum fajar.

Amat tidak menari lagi
tidak mau lari lagi
tidak mau narik becak
dia hanya mau dunia kembali satu dan sama.


Gang Tengah 29

engkau bintang di hati kami
sumber daya yang ngalir abadi
bikin manusia-manusia baru.

kami yang kini berada dimana-mana
merasa bangga membawa garis
kepunyaanmu, kepunyaan massa
hingga deburan cinta makin menyala
pada tanah air dan dunia.

biarkan siutan taufan mengganas
engkau tenang tahan segala
dan kami makin setia
bela garis bela cita
bikin habis hidup sengsara.

kata-kata di tanganmu hilang hampa
jadi segar laksana cahya
jadi deras laksana darah
segala engkau suruh sumbangkan
kepada kenyataan abad rakyat.

kami yang kini berada dimana-mana
tiap detik berada di tengah gelanggang
susun barisan atur serangan
dan ini hanya permulaan dari
jalan panjang ke pembebasan.

engkau bintang di hati kami
yang bikin dada rindu berdebar
menantikan dunia berseri laksana bunga.


Kader SB

Kepada SOBSI yang besar
kau tanya aku datang dari mana
dan mengapa segar mengintan
bagaikan embun di rumput pagi harapan.

aku adalah anak derita yang dibesarkan cinta
bayi kepedihan hari kemarin
remaja kegairahan hari ini
nyala yang mewarnai bahagia
bagi bangsa dan manusia.

aku adalah perwira yang merebut semua pabrik
pada ujung sorak-sorai revolusi
yang bikin kaya republik
semula tidak punya apa-apa
selain harta merdeka.

aku adalah api yang bertahan dan berkelahi
seteru dari budak-budak bayaran
penganjur keruntuhan
yang mau bikin muram
kegemilangan hidup hari ini.

aku adalah zat yang ada pada segala
dimana manusia merintih
dibelenggu kerja paksa
dan aku pencipta barisan
yang kembali kibarkan harapan.

aku adalah kekuatan Republik kekasih ini
dalam duka dalam suka
karena aku panglima barisan
yang tidak punya apa-apa
tapi pembawa merdeka bagi semua.

kau tanya aku mau kemana?
dengarlah: mari, hari ini jadikan pesta
kejayaan juang menyongsong cinta merata!


Rukmanda

sebutkan segala penjara
dan itu adalah aku

sebutkan segala badai
kepahitan pembuangan
kerinduan pada kecapi
kesunyian malam sepi
kenangan pada Priangan
dan kelayuan dari menanti.

aku yang telah menghitung
rangkaian detik
berpuluh tahun
aku serahkan segala
pada pesta perlawanan
selama ini jiwa remaja
setiap detak nafas nyawaku
dan kala ini juga diminta
aku nyanyikan “Bangunlah Kaum Terhina”.

aku kini tiada lagi
bersatu dengan bumi tanah air tercinta
tapi lagu aku tamatkan
bersama bintang seminar kelam
dengan debar jantung terakhir
yang melihat fajar bersinar
kelahiran tunas penyambung keremajaanku.

sebutkan segala penjara
dan itu adalah aku
tapi sebutkan juga kesetiaan
kegairahan dan kepahlawanan
itulah aku!


Petikan Gitar (1949)

Untuk kawan dan lawan
malam ini kawanku memetik gitar
selama ini berdebu disudut kamar
mengalun lagu kenangan lama.

melodi makin segar menaik
trem penghabisan menderu lalu
kawanku menyanyi nyayian hati
cerita remaja mencumbu gadis
cerita lama jutaan buku.

melodi makin segar manaik
dan malam makin menyepi
sukaduka bergetar dalam suara
remaja menempuh badai lautan
hilang gadis, hilang impian.

gitar berdenjar diremas jari
remaja telanjang dilapang luas
sekitar menantang nuntut pilihan
mau kemana, mau kemana
ini batas, ini anggur dan wanita.

aku tatap muka kawanku
dijauhan tukang sate yang mengeluh
dagangan mesti habis malam ini
dan dia tidak mau menyerah
bintang harapan di dalam hati.

gitar halus memperbaja melodi
kawanku mesra merangkai bunga api
dan hati remaja kembali.


Surat
Biru
kutumpahkan segala daya puisiku
untuk menamatkan hidup dongengan, Ira
ayo, kusambut ajakan dendang lagumu
memaya zaman ini kita bersama.

suratku ini menterjemahkan ketekunan
hidup keras dalam rimba pengabdian
dimana kita miliki damai di hati
dan tujuan di hidup gemilang arti.

lihat saja keindahan sekitar kita
pesta warna pribadi-pribadi yang tahu cinta
suratku ini menterjemahkan ketekunan
suratku ini menterjemahkan kemenangan.


Mars ke Sosialisme

kami manusia kini
najis dan koyak di kutuk sejarah.
zaman budak, zaman feodal
dan zaman penghisapan kapital
yang ingin ‘ngubur kembali
kemenangan manusia atas hewan
dengan wabah hak milik perseorangan.

sorga dipanggil
neraka dipanggil
perang dipanggil
malaikat dan setan
jadi alat penegak nafsu.

kami manusia kini
najis dan koyak dikutuk sejarah.
menggeliat meraih fajar
dunia milik bersama
yang membunga berwarna merah.

dan kami panggil sorga
tetapi lempar neraka
memuja damai
dan hukum perang
kawan malaikat
seteru setan
sucikan diri dari
rawa koreng zaman lama berabad-abad.

dan kami dalam sucikan diri
ciptakan udara baru
bagi manusia yang meraih fajar
bagi manusia yang ingin wajar
bagi manusia malaikat dan bidadari.

kami manusia kini
suci ditempa sejarah
manusia – yang tak kenal menyerah
manusia – penguasa alam raya:
membuka pintu ke dunia fajar bersinar
ketok hati ke manusia besar karena wajar.








Read More...

Aku Ingin Jadi Peluru


Aku Ingin Jadi Peluru
Oleh Wiji Thukul

Penerbit:
Indonesia TERA - Anggota Ikapi

Cetakan Pertama, Juni 2000
Cetakan Kedua, April 2004

Penyunting:
Khotimatul Husna

Design Sampul:
M. Iqbal Azcha

Lukisan Sampul:
Alfi

Distributor:
AgroMedia Pustaka
Bintaro Jaya Sektor IX
Jl Rajawali IV Blok HDX No. 3 Tangerang 15226
Telp. (021) 7451 644, (021) 7486 3334
Fax. (021) 7486 3332
____________________________________

Pulanglah Nang
pulanglah nang
jangan dolanan sama si kuncung
si kuncung memang nakal
nanti bajumu kotor lagi
disirami air selokan

pulanglah nang
nanti kamu manangis lagi
jangan dolanan sama anaknya pak kerto
si bejo memang
mbeling
kukunya hitam panjang-panjang
kalau makan tidak cuci tangan
nanti kamu ketularan cacingan

pulanglah nang
kamu kan punya mobil-mobilan
kapal terbang bikinan taiwan
senapan atom bikinan jepang
kamu kan punya robot yang bisa jalan sendiri

pulanglah nang
nanti kamu digebugi mamimu lagi
kamu pasti belum tidur siang

pulanglah nang
jangan dolanan sama anaknya mbok sukiyem
mbok sukiyem memang keterlaluan
si slamet sudah besar tapi belum disekolahkan

pulanglah nang
pasti papimu marah lagi
kamu pasti belum bikin PR
belajar yang rajin
biar nanti jadi dokter

Solo, september 86

Monumen Bambu Runcing
monumen bambu runcing
di tengah kota
menuding dan berteriak merdeka
di kakinya tak jemu juga
pedagang kaki lima berderet-deret
walau berulang-ulang
dihalau petugas ketertiban

semarang, 1 maret 86

Riwayat
seperti tanah lempung
pinggir kampung
masa laluku kuaduk-aduk
kubikin bentuk-bentuk
patung peringatan

berkali-kali
kuhancurkan
kubentuk lagi
kuhancurkan
kubentuk lagi
patungku tak jadi-jadi

aku ingin sempurna
patungku tak jadi-jadi

lihat!
diriku makin belepotan
dalam penciptaan

kalangan, oktober 87

Suara Dari Rumah-Rumah Miring
di sini kamu bisa menikmati cicit tikus
di dalam rumah miring ini
kami mencium selokan dan sampan
bagi kami setiap hari adalah kebisingan
di sini kami berdesak-desakan dan berkeringat
bersama tumpukan gombal-gombal
dan piring-piring
di sini kami bersetubuh dan melahirkan
anka-anak kami

di dalam rumah miring ini
kami melihat matahari menyelinap
dari atap ke atap
meloncati selokan
seperti pencuri

radio dari segenap penjuru
tak henti-hentinya membujuk kami
merampas waktu kami dengan tawaran-tawaran
sandiwara obat-obatan
dan berita-berita yang meragukan

kami bermimpi punya rumah untuk anak-anak
tapi bersama hari-hari pengap yang menggelinding
kami harus angkat kaki
karena kami adalah gelandangan

solo, oktober 87

Catatan Malam
anjing nyalak
lampuku padam
aku nelentang
sendirian
kepala di bantal
pikiran menerawang
membayang pernikahan
(pacarku buruh harganya tak lebih dua ratus rupiah per jam)
kukibaskan pikiran tadi dalam gelap makin pekat

aku ini penyair miskin
tapi kekasihku cinta

cinta menuntun kami ke masa depan

solo-kalangan, 23 februari 88

Nyanyian Akar Rumput
jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang

kami rumput
butuh tanah
dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!

juli 1988

Catatan
udara AC asing di tubuhku
mataku bingung melihat
deretan buku-buku sastra
dan buku-buku tebal intelektual terkemuka
tetapi harganya
Ooo.. aku ternganga

musik stereo mengitariku
penjaga stand cantik-cantik
sandal jepit dan ubin mengkilat
betapa jauh jarak kami

uang sepuluh ribu di sakuku
di sini hanya dapat 2 buku
untuk keluargaku cukup buat
makan seminggu

gemerlap toko-toko di kota
dan kumuh kampungku
dua dunia yang tak pernah bertemu

solo, 87-88

Ucapkan Kata-Katamu
jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan

jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan
apa maumu terampas

kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
atau dicabut seperti rumput

atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian

jka kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu

jika kau menghamba pada ketakutan
kita akan memperpanjang barisan perbudakan

kemasan-kentingan-sorogenen

Sajak Bapak Tua
bapak tua
kulitnya coklat dibakar matahari kota
jidatnya berlipat-lipat seperti sobekan luka

pipinya gosong disapu angin panas
tenaganya dikuras
di jalan raya siang tadi

sekarang bapak mendengkur

dan ketika bayanga esok pagi datang
di dalam kepalaku
bis tingkat itu tiba-tiba berubah
jadi ikan kakap raksasa
becak-becak jadi ikan teri
yang tak berdaya

solo, juni 1987

Sajak Bagong
bagong namanya
tantanglah berkelahi
kepalamu pasti dikepruk batu
bawalah whisky
bahumu pasti ditepuk-tepuk gembira
ajaklah omong
tapi jangan khotbah
ia akan kentut

bagong namanya
malam begadang
subuh tidur bangun siang
sore parkir untuk makan
awas jangan ngebut di depan matanya
engkau bisa dipukuli
lalu ditinggal pergi

ya, ya.. bagong namanya
pemilu kemarin besar jasanya
bagong ya bangong
tapi bagong sudah mati
pada suatu pagi
mayatnya ditemukan orang
di tepi rel kereta api
setahun yang lalu
ya, ya.. setahun yang lalu

Sajak Ibu
ibu pernah mengusirku
minggat dari rumah
tetapi menangis ketika aku susah
ibu tak bisa memejamkan mata
bila adikku tak bisa tidur karena lapar
ibu akan marah besar
bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami
ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
ketabahan ibuku
mengubah rasa sayur murah
jadi sedap

ibu menangis ketika aku mendapat susah
ibu menangis kerika aku bahagia
ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
ibu menangis ketika adikku keluar penjara

ibu adalah hati yang rela menerima
selalu disakiti oleh anak-anaknya
penuh maaf dan ampun
kasih sayang ibu
adalah kilau sinar kegaiban tuhan
membangkitkan haru insan

dengan kebajikan
ibu mengenalkan aku kepada tuhan

solo, 1986

Sajak Kepada Bung Dadi
ini tanahmu juga
rumah-rumah yang berdesakan
manusia dan nestapa
kampung halaman gadis-gadis muda
buruh-buruh berangkat pagi pulang sore
dengan gaji tak pantas
kampung orang-orang kecil
yang dibikin bingung
oleh surat-surat izin dan kebijaksanaan
dibikin tunduk mengangguk
bungkuk

ini tanah airmu
di sini kita bukan turis

solo-sorogenen, malam pemilu 87

Catatan 88
saban malam
dendam dipendam
protes diam-diam
dibungkus gurauan

saban malam
menyanyi menyabarkan diri
bau tembakau dan keringat di badan
campur aduk dengan kegelisahan

saban malam
mencoba bertahan menghadapi kebosanan
menegakkan diri dengan harapan-harapan
dan senyum rawan

saban malam
rencana-rencana menumpuk jadi kuburan

solo-sorogenen, 1 september 88

Jalan Slamet Riyadi Solo
dulu kanan dan kiri jalan ini
pohon-pohon asam besar melulu
saban lebaran dengan teman sekampung
jalan berombongan
ke taman sriwedari nonton gajah

banyak yang berubah kini
ada holland bakery
ada diskotik ada taksi
gajahnya juga sudah dipindah
loteng-loteng arsitektur cina
kepangkas jadi gedung tegak lurus

hanya kereta api itu
masih hitam legam
dan terus mengerang
memberi peringatan pak-pak becak
yang nekat potong jalan
"hei hati hati
cepat menepi ada polisi
banmu digembos lagi nanti!"

solo, mei-juni 1991

Batas Panggung
kepada para pelaku
ini adalah daerah kekuasaan kami
jangan lewati batas ini
jangan campuri apa yang terjadi di sini
karena kalian penonton
kalian adalah orang luar
jangan rubah cerita yang telah kami susun
jangan belokkan jalan cerita yang telah kami rencanakan
karena kalian adalah penonton
kalain adalah orang luar
kalian harus diam

panggung seluas ini hanya untuk kami
apa yagn terjadi d sini
jangan ditawar-tawar lagi
panggung seluas ini hanya untuk kami
jangan coba bawa pertanyaan-pertanyaan berbahaya
ke dalam permainan ini
panggung seluas ini hanya untuk kami
kalian harus bayar kami
untuk membiayai apa yang kami kerjakan di sini

biarkan kami menjalankan kekuasaan kami
tontonlah
tempatmu di situ

solo, 21 november 91

Ceritakanlah Ini Kepada Siapa Pun
panas campur debu
terbawa angin ke mana-mana

koran hari ini memberitakan
kedungombo menyusut kekeringan
korban pembangunan dam
muncul kembali ke permukaan
tanah-tanah bengkah
pohon-pohon besar malang-melintang
makam-makam bangkit dari ingatan
mereka yang dulu diam

kali ini
cerita itu siapa akan membantah
dasar waduk ini dulu dusun rumah-rumah

waktu juga yang menyingkap
retorika penguasa
walau senjata ditodongkan kepadamu
walau sepatu di atas kepalamu
di atas kepalaku
di atas kepala kita

ceritakanlah ini kepada siapa pun
sebab cerita ini belum tamat

solo, 30 agustus 91

Tetangga Sebelahku
tetangga sebelahku
pintar bikin suling bambu
dan memainkan banyak lagu

tetangga sebelahku
kerap pinjam gitar
nyanyi sama anak-anaknya

kuping sebelahnya rusak
dipopor senapan

tetangga sebelahku
hidup bagai dalam benteng
melongok-longok selalu
membaca bahaya

tetangga sebelahku
diterror masa lalu

kalangan-solo, november 1991

Hujan
mendung hitam tebal
masukkan itu jemuran
dan bantal-bantal
periksa lagi genting-genting
barangkali bocornya pindah

udara gerah
ruangan gelap
listrik tak nyala
mana anak kita?

hujan akan lebat lagi nampaknanya
semoga tanpa angin keras

burung-burung parkit itu
masih berkicau juga dalam kandangnya
burung-burung parkit itu
apakah juga pingin punya rumah sendiri
seperti kami?

kalangan-solo, 25 november 91

Lingkungan Kita Si Mulut Besar
lingkungan kita si mulut besar
dihuni lintah-lintah
yang kenyang menghisap darah keringat tetangga
dan anjing-anjing yang taat beribadah
menyingkiri para panganggur
yang mabuk minuman murahan

lingkungan kita si mulut besar
raksasa yang membisu
yang anak-anaknya terus dirampok
dan dihibur film-film kartun amerika
perempuannya disetor
ke mesin-mesin industri
yang membayar murah

lingkungan kita si mulut besar
sakit perut dan terus berak
mencret oli dan logam
busa dan plastik
dan zat-zat pewarna yang merangsang
menggerogoti tenggorokan bocah-bocah
yang mengulum es
limapuluh perak

kampung kalangan-solo, desember 1991

Megatruh Solidaritas
akulah bocah cilik itu
kini aku datang kepada dirimu
akan kuceritakan masa kanak-kanakmu

akulah bocah cilik itu
yang tak berani pulang
karena mencuri uang simbok
untuk beli benang layang-layang

akulah bocah cilik itu
yang menjual gelang simbok
dan ludes dalam permainan dadu

akulah bocah cilik kurus itu
yang tak pernah menang bila berkelahi
yang selalu menangis bila bermain sepak-sepong
aku adalah salah seorang dari bocah-bocah kucel
yang mengoreki tumpukan sampah
mencari sisa kacang atom
dan sisa moto buangan pabrik

akulah bocah bengal itu
yang kelayapan di tengah arena sekaten
nyrobot brondong dan celengan
dan menangis di tengah jalan
karena tak bisa pulang

akulah bocah cilik itu
yang ramai-ramai rebutan kulit durian
dan digigit anjing ketika nonton telepisi
di rumah Bah Sabun

ya engkaulah bocah cilik itu
sekarang umurku dua puluh empat
ya akulah bocah cilik itu
sekarang aku datang kepada dirimu
karena kudengar kabar
seorang kawan kita mati terkapar
mati ditembak mayatnya dibuang
kepalanya koyak
darahnya mengental
dalam selokan

solo, 31 januari 1987

Catatan Suram
kucing hitam jalan pelan
meloncat turun dari atap
tiga orang muncul dalam gelap
sembunyi menggenggam besi

kucing hitam jalan pelan-pelan
diikuti bayang-bayang
ketika sampai di mulut gang
tiga orang menggeram
melepaskan pukulan

bulan disaput awan meremang
saksikan perayaan kemiskinan
daging kucing pindah
ke perut orang!

solo, 1987

Gumam Sehari-hari
di ujung sana ada pabrik roti
kami beli yang remah-remah
karena murah
di ujung sana ada tempat penyembelihan sapi
dan kami kebagian bau
kotoran air selokan dan tai
di ujung sana ada perusahaan daging abon
setiap pagi kami beli kuahnya
dimasak campur sayur

di pinggir jalan
berdiri toko-toko baru
dan macam-macam bangunan
kampung kami di belakangnya
riuh dan berjubel
seperti kutu kere kumal
terus berbiak!
membengkak tak tercegah!

jagalan, kalangan solo, 29 januari 1989

Catatan Hari Ini
aku nganggur lagi

semalam ibu tidur di kursi
jam dua lebih aku menulis puisi
aku duduk menghadap meja
ibu kelap-kelip matanya ngitung utang

jam enam sore:
bapak pulang kerja
setelah makan sepiring
lalu mandi tanpa sabun

tadi siang ibu tanya padaku:
kapan ada uang?

jam setengah tujuh malam
aku berangkat latihan teater
apakah seni bisa memperbaiki hidup?

solo, juni 86

Reportase dari Puskesmas
barangkali karena ikan laut yang kumakan ya
barangkali ikan laut. seminggu ini
tubuhku gatal-gatal ya.. gatal-gatal
karena itu dengan lima ratus rupiah aku daftarkan
diri ke loket, ternyata cuma seratus lima puluh
murah sekali oo.. murah sekali! lalu aku menunggu
berdiri. bukan aku saja. tapi berpuluh-puluh
bayi digendong. orang-orang batuk
kursi-kursi tak cukup maka berdirilah aku.
"sakit apa pak?"
aku bertanya kepada seorang baoak berkaos lorek
kurus. bersandal jepit dan yang kemusian mengaku
sebagai penjual kaos celana pakaian rombeng di pasar johar.
"batuk-pilek-pusing-sesek nafas
wah! campur jadi satu nak!"
bayangkan tiga hari menggigil panas tak tidur
ceritanya kepadaku. mendengar cerita lelaki itu
seorang ibu (40 th) menjerit gembira:
"ya ampun rupanya bukan aku saja!"
di ruang tunggu terjejal yang sakit pagi itu
sakit gigi mules mencret demam semua bersatu.
jadi satu. menunggu.
o ya pagi itu seorang tukang kayu sudah tiga hari
tak kerja. kakinya merah bengkak gemetar
"menginjak paku!" katanya, meringis.
puskesmas itu demokratis sekali, pikirku
sakit gigi, sakit mata, mencret, kurapan, demam
tak bisa tidur, semua disuntik dengan obat yang sama.
ini namanya sama rasa sama rasa.
ini namanya setiap warga negara mendapatkan haknya
semua yang sakit diberi obat yang sama!

semarang, 86

Sajak Kota
kota macam apa yang kita bangun
mimpi siapa yang ditanam
di benak rakyat
siapa yang merencanakan

lampu-lampu menyibak
jalan raya dilicinkan
di aspal oleh uang rakyat
motor-motor mulus meluncur
merek-merek iklan
di atap gedung
menyala
berjejer-jejer
toko roti
toko sepatu
berjejer-jejer
salon-salon kecantikan
siapa merencanakan nasib rakyat?

Pemandangan
aku pangling betul
pada ini jalan jendral Sudirman
balaikota makin berubah
sampai Slamet Riyadi-Gladag
reklame rokok berkibar-kibar
spanduk show band
pameran rumah murah
(tapi harganya jutaan!)
kehingaran jalan raya
menyolok mata

Jendral Sudirman
dihiasi slogan-slogan pembangunan
tapi kantor pos belum berubah
bank-bank dan gereja makin megah

di pojok Ronggowarsito
ada aturan baru
becak dilarang terus
(bis kota turah-turah penumpang!)

solo, desember 87

Aku Lebih Suka Dagelan
di radio aku mendengar berita
katanya partisipasi politik rakyat kita sangat menggembirakan
tapi kudengar dari mulut seorang kawanku
dia diinterogasi dipanggil gurunya
karena ikut kampanye PDI
dan di kampungku ibu RT
tak mau menegor sapa warganya
hanya karena ia Golkar
ada juga yang saling bertengkar
padahal rumah mereka bersebelahan
penyebabnya hanya karena mereka berbeda tanda gambar

ada juga kontestan yang nyogok
tukang-tukang becak
akibatnya dalam kampanye banyak
yang mencak-mencak

di radio aku mendengar berita-berita
tapi aku jadi muak karena isinya
kebohongan yang tak mengatakan kenyataan
untunglah warta berita segera bubar
acara yang kutunggu-tunggu datang: dagelan!

solo, 87

Sajak Setumbu Nasi Sepanci Sayur
setumbu nasi
sepanci sayur kobis
renungan hari ini

berjongkok di dapur
angan terbuka seperti layar bioskop
bising mesin
bis kota merdeka berlaga di jalan raya
becak-becak berpeluh melawan jalan raya

siapa pengatur jalan kaki
siapa pemerintah kaki lima
begitu patuh mereka diusir pergi
begitu berani mereka datang kembali

gemuruh kota menggaru benakku

berjongkok di dapur
kompor kering
kayu tempat piring-piring

gedung-gedung beranak pinak

Nyanyian Abang Becak
jika harga minyak mundhak
simbok semakin ajeg berkelahi sama bapak
harga minyak mundhak lombok-lombok akan mundhak
sandang pangan akan mundhak
maka terpaksa tukang-tukang lebon
lintah darat bank plecit tukang kredit harus dilayani

siapa tidak marah bila kebutuhan hidup semakin mendesak
seribu lima ratus uang belanja tertinggi dari bapak untuk simbok
siapa bisa mencukupi
sedangkan kebutuhan hidup semakin mendesak
maka simbok pun mencak-mencak:
"pak-pak anak kita kebacut metu papat lho!"
bayaran sekolahnya anak-anak nunggak lho!"
si Penceng muntah ngising, perutku malah sudah
isi lagi dan suk Selasa Pon ana sumbangan maneh
si Sebloh dadi manten!"

jika BBM kembali menginjak
namun juga masih disebut langkah-langkah kebijaksanaan
maka aku tidak akan lagi memohon pembangunan

nasib
kepadamu duh pangeran duh gusti
sebab nasib adalah permainan kekuasaan

lampu butuh menyala, menyala butuh minyak
perut butuh kenyang, kenyang butuh diisi
namun bapak cuma abang becak!
maka apabila becak pusaka keluarga pulang tanpa membawa uang
simbok akan kembali mengajak berkelahi bapak.

solo, 1984

Jalan
aspal leleh tengah hari
silau aku oleh sinar matahari
gedung-gedung baru berdiri
arsitektur lama satu-satu hilang
dimakan pembangunan

jalan kiri kanan dilebarkan
becak-becak melompong di pinggiran

yang jalan kaki
yang digenjot
yang jalan bensin
semua ingin jalan

solo, 22 november 90

Pasar Malam Sriwedari
beli karcis di loket
pengemis tua muda anak-anak
mengulurkan tangan
masuk arena corong-corong berteriak
udara terang benderang tapi sesak
di stand perusahaan rokok besar
perempuan montok menawarkan dagangannya
di stand jamu tradisionil
kere-kere di depan video berjongkok
nonton silat mandarin

di dalam gedung wayang wong
penonton lima belas orang

ada pedagang kaki lima
yang liar tak berizin
setiap saat bisa diusir keamanan

solo, 28 mei 86

Sajak Tikar Plastik-Tikar Pandan
tikar plastik tikar pandan
kita duduk berhadapan
tikar plastik tkar pandan
lambang dua kekuatan

tikar plastik bikinan pabrik
tikar pandan dianyam tangan
tikar plastik makin mendesak
tikar pandan bertahan

kalian duduk di mana?

solo, april 88

Lumut
dalam gang pikiranku menggumam
seperti kemarin saja
kini los rumah yang dulu kami tempati
jadi bangunan berpagar tembok tinggi

aku jalan lagi
melewati rumah yang pernah disewa
Riyanto buruh kawan sekerjaku
ke mana lagi dia sekeluarga
rumah itu kini gantian di sewa
keluarga mbak Nina

kampung ini tak memiliki tanah lapang lagi
tanah-tanah kosong sudah dibeli orang

dalam gang
setengah gelap setengah terang
aku menemukan perumpamaan:
kita ini lumut
menempel di tembok-tembok bangunan
berkembang di pingir-pinggir selokan
di musim kemarau kering
diterjang banjir
tetap hidup

kalau keadaan berubah
perumpamaan boleh berubah

menurutmu sendiri
kita ini siapa?

kalangan solo, 8 februari 91

Tanah
tanah mestinya di bagi-bagi
jika cuma segelintir orang
yang menguasai
bagaimana hari esok kamu tani

tanah mestinya ditanami
sebab hidup tidak hanya hari ini
jika sawah diratakan
rimbun semak pohon dirubuhkan
apa yang kita harap
dari cerobong asap besi

hari ini aku mimpi buruk lagi
seekor burung kecil menanti induknya
di dalam sarangnya yang gemeretak
dimakan sapi

1989-solo

Sajak Tapi Sayang
kembang dari pinggir jalan
kembang yang tumbuh di tembok
tembok selokan
kupindah kutanam di halaman depan
anakku senang bojoku senang
tapi sayang

bojoku ingin nanam lombok
anakku ingin kolam ikan
tapi sayang

setelah sewa rumah habis
kami harus pergi
terus cari sewa lagi
terus cari sewa lagi

alamat rumah kami punya
tapi sayang
kamu butuh tanah

25 januari 91 - solo

Gunungbatu
gunungbatu
desa yang melahirkan laki-laki
kuli-kuli perkebunan
seharian memikul kerja
setiap pagi makin bungkuk
dijaga mandor dan traktor
delapan ratus gaji sehari
di rumah ditunggu
mulut perut anak istri

gunungbatu
desa yang melahirkan laki-laki
pencuri-pencuri
menembak binatang di hutan lindung
mengambil telur penyu
di pantai terlarang
demi piring nasi
kehidupan sehari-hari

gunungbatu
desa terpencil jawa barat
dipagari hutan
dibtasi pantai-pantai cantik
ujung genteng, cibuaya, pangumbahan
sulit transportasi
-jakarta dekat-
sulit komunikasi

sejarah gunungbatu
sejarah kuli-kuli
sejak kolonial
sampai republik merdeka

sejarah gunungbatu
sejarah kuli-kuli
gunungbatu
masih di tanah air ini

november 87

Suti
Suti tidak kerja lagi
pucat ia duduk dekat
amben-nya
Suti di rumah saja
tidak ke pabrik tidak ke mana-mana
Suti tidak ke rumah sakit
batuknya memburu
dahaknya berdarah
tak ada biaya

Suti kusut-masai
di benaknya menggelegar suara mesin
kuyu matanya membayangkan
buruh-buruh yang berangkat pagi
pulang petang
hidup pas-pasan
gaji kurang
dicekik kebutuhan
Suti meraba wajahnya sendiri
tubuhnya makin susut saja
makin kurus menonjol tulang pipinya
loyo tenaganya
bertahun-tahun dihisap kerja

Suti batuk-batuk lagi
ia ingat kawannya
Sri yang mati
karena rusak paru-parunya

Suti meludah
dan lagi-lagi darah

Suti memejamkan mata
suara mesin kembali menggemuruh
bayangan kawannya bermunculan
Suti menggelengkan kepala
tahu mereka dibayar murah

Suti meludah
dan lagi-lagi darah

Suti merenungi resep dokter
tak ada uang
tak ada obat

solo, 27 februari 88

Apa Yang Berharga Dari Puisiku

apa yang berharga dari puisiku
kalau adikku tak berangkat sekolah
karena belum membayar SPP

apa yang berharga dari puisiku
kalau becak bapakku tiba-tiba rusak
jika nasi harus dibeli dengan uang
jika kami harus makan
dan jika yang dimakan tidak ada?

apa yang berharga dari puisiku
kalau bapak bertengkara dengan ibu
ibu menyalahkan bapak
padahal becak-becak terdesak oleh bis kota
kalau bis kota lebih murah siapa yang salah?

apa yang berharga dari puisiku
kalau ibu dijiret utang
kalau tetangga dijiret utang?

apa yang berharga dari puisiku
kalau kami terdesak mendirikan rumah
di tanah-tanah pinggir selokan
sementara harga tanah semakin mahal
kami tak mampu membeli
salah siapa kalau kami tak mampu beli tanah?

apa yang berharga dari puisiku
kalau orang sakit mati di rumah
karena rumah sakit yang mahal

apa yang berharga dari puisiku
kalau yang kutulis makan waktu berbulan-bulan
apa yang bisa kuberikan dalam kemiskinan yang menjiret kami?

apa yang telah kuberikan
kalau penonton baca puisi memberi keplokan
apap yang telah kuberikan
apa yang telah kuberikan?

semarang, 6 maret 86

Mendongkel Orang-Orang Pintar
kudongkel keluar
orang-orang pintar
dari dalam kepalaku

aku tak tergetar lagi
oleh mulut-mulut orang pintar
yang bersemangat ketika berbicara

dunia bergerak bukan karena omongan

para pembicara dalam ruang seminar
yang ucapannya dimuat
di halaman surat kabar
mungkin pembaca terkagum-kagum
tapi dunia tak bergerak
setelah surat kabar itu dilipat

Kampung halaman solo, 8 september 1993

Kota ini Milik Kalian
di belakang gedung-gedung tinggi
kalian boleh tinggal
kalian bebas tidur di mana-mana kapan saja
kalian bebas bangun sewaktu kalian mau
jika kedinginan karena gerimis atau hujan
kalian bisa mencari hangat
di sana ada restoran
kalian bisa tidur dekat kompor penggorengan
bakmi ayam dan babi
denting garpu dan sepatu mengkilap
di samping sedan-sedan dan mobil-mobil bikinan jepang

kalian bisa mandi kapan saja
sungai itu milik kalian
kalian bisa cuci badan dengan limbah-limbah industri

apa belum cukup terang benderang itu
lampu merkuri taman
apa belum cukup nyaman tidur di bawah langit kawan

kota ini milik kalian
kecuali gedung-gedung tembok pagar besi itu; jangan!

Gentong Kosong
parit susut
tanah kerontang
langit mengkilau perak
matahari menggosongkan pipi

gentong kosong
beras segelas cuma
masak apa kita hari ini?

pakis-pakis hijau
bawang putih dan garam
kepadamu kami berterimakasih
atas jawabanmu
pada sang lapar hari ini

gentong kosong
airmu kering
ciduk jatuh bergelontang
minum apa hari ini?

sungai-sungai pinggir hutan
yang menolong di panas terik
dan kalian pucuk-pucuk muda daun pohon karet
yang mendidih bersama ikan teri di panci
jadilah tenaga hidup kami hari ini
dengan iris-irisan ubi keladi
yang digoreng dengan minyak
persediaan terakhir kami

gentong kosong
botol kosong
marilah bernyanyi
merayakan hidup ini

6 januari 97

Kucing, Ikan Asin dan Aku
seekor kucing kurus
menggondol ikan asin
laukku untuk siang ini

aku meloncat
kuraih pisau
biar kubacok dia
biar mampus!

ia tak lari
tapi mendongak
menatapku
tajam

mendadak
lunglai tanganku
-aku melihat diriku sendiri

lalu kami berbagi
kuberi ia kepalanya
(batal nyawa melayang)
aku hidup
ia hidup
kami sama-sama makan

14 oktober 1996

Nonton Harga
ayo keluar keliling kota
tak perlu ongkos tak perlu biaya
masuk toko perbelanjaan tingkat lima
tak beli tak apa
lihat-lihat saja

kalau pingin durian
apel-pisang-rambutan-anggur
ayo..
kita bisa mencium baunya
mengumbar hidung cuma-cuma
tak perlu ongkos tak perlu biaya
di kota kita
buah macam apa
asal mana saja
ada

kalau pingin lihat orang cantik
di kota kita banyak gedung bioskop
kita bisa nonton posternya
atau ke diskotik
di depan pintu
kau boleh mengumbar telinga cuma-cuma
mendengarkan detak musik
denting botol
lengking dan tawa
bisa juga kau nikmati
aroma minyak wangi luar negeri
cuma-cuma
aromanya saja

ayo..
kita keliling kota
hari ini ada peresmian hotel baru
berbintang lima
dibuka pejabat tinggi
dihadiri artis-artis ternama ibukota
lihat
mabil para tamu berderet-deret
satu kilometer panjangnya

kota kita memang makin megah dan kaya

tapi hari sudah malam
ayo kita pulang
ke rumah kontrakan
sebelum kehabisan kendaraan

ayo kita pulang
ke rumah kontrakan
tidur berderet-deret
seperti ikan tangkapan
siap dijual di pelelangan

besok pagi
kita ke pabrik
kembali bekerja
sarapan nasi bungkus
ngutang
seperti biasa

18 november 96

Derita Sudah Naik Seleher
kaulempar aku dalam gelap
hingga hidupku menjadi gelap

kausiksa aku sangat keras
hingga aku makin mengeras

kau paksa aku terus menunduk
tapi keputusan tambah tegak

darah sudah kau teteskan
dari bibirku
luka sudah kau bilurkan
ke sekujur tubuhku
cahaya sudah kau rampas
dari biji mataku

derita sudah naik seleher
kau
menindas
sampai
di luar batas

17 november 96

Puisi Sikap
maunya mulutmu bicara terus
tapi telingamu tak mau mendengar

maumu aku ini jadi pendengar terus
bisu

kamu memang punya tank
tapi salah besar kamu
kalau karena itu
aku lantas manut

andai benar
ada kehidupan lagi nanti
setelah kehidupan ini
maka akan kuceritakan kepada semua mahkluk
bahwa sepanjang umurku dulu
telah kuletakkan rasa takut itu di tumitku
dan kuhabiskan hidupku
untuk menentangmu
hei penguasa zalim

24 januari 97

Hari Ini Aku Akan Bersiul-siul
pada hari coblosan nanti
aku akan masuk ke dapur
akan kujumlah gelas dan sendokku
apakah jumlahnya bertambah
setelah pemilu bubar?

pemilu oo.. pilu pilu

bila hari coblosan tiba nanti
aku tak akan pergi kemana-mana
aku ingin di rumah saja

mengisi jambangan
atau mananak nasi

pemilu oo.. pilu pilu

nanti akan kuceritakan kepadamu
apakah jadi penuh karung beras
minyak tanah
gula
atau bumbu masak
setelah suaramu dihitung
dan pesta demokrasi dinyatakan selesai
nanti akan kuceritakan kepadamu

pemilu oo.. pilu pilu

bila tiba harinya
hari coblosan
aku tak akan ikut berbondong-bondong
ke tempat pemungutan suara
aku tidak akan datang
aku tidak akan menyerahkan suaraku
aku tidak akan ikutan masuk
ke dalam kotak suara itu

pemilu oo.. pilu pilu

aku akan bersiul-siul
memproklamasikan kemerdekaanku

aku akan mandi
dan bernyanyi sekeras-kerasnya
pemilu oo.. pilu pilu

hari itu aku akan mengibarkan hakku
tinggi tinggi
akan kurayakan dengan nasi hangat
sambel bawang dan ikan asin

pemilu oo.. pilu pilu
sambel bawang dan ikan asin

10 november 96

Merontokkan Pidato
bermingu-minggu ratusan jam
aku dipaksa
akrab dengan sudut-sudut kamar
lobang-lobang udara
lalat semut dan kecoa

tapi catatlah
mereka gagal memaksaku

aku tak akan mengakui kesalahanku
karena berpikir merdeka bukanlah kesalahan
bukan dosa bukan aib bukan cacat
yang harus disembunyikan

kubaca koran
kucari apa yang tidak tertulis
kutonton televisi
kulihat apa yang tidak diperlihatkan

kukibas-kibaskan pidatomu itu
dalam kepalaku hingga rontok
maka terang benderanglah
:ucapan penguasa selalu dibenarkan
laras senapan!

tapi dengarlah
aku tak akan minta ampun
pada kemerdekaan ini

11 september 96

Puisi Menolak Patuh
walau penguasa menyatakan keadaan darurat
dan memberlakukan jam malam
kegembiraanku tak akan berubah
seperti kupu-kupu
sayapnya tetap indah
meski air kali keruh

pertarungan para jendral
tak ada sangkut pautnya
dengan kebahagiaanku
seperti cuaca yang kacau
hujan angin kencang serta terik panas
tidak akan mempersempit atau memperluas langit

lapar tetap lapar
tentara di jalan-jalan raya
pidato kenegaraan atau siaran pemerintah
tentang kenaikkan pendapatan rakyat
tidak akan mengubah lapar

dan terbitnya kata-kata dalam diriku
tak bisa dicegah
bagaimana kau akan membungkamku?
penjara sekalipun
tak bakal mampu
mendidikku jadi patuh

17 januari 97

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright by DPW SRMI DKI Jakarta  |  Minima Template modified by azizal